Skip to main content

Posts

Istana dan Senyapnya Isu Reshuffle

ISU reshuffle semakin kencang berhembus. Istana Kepresidenan kerap kali disambangi tokoh penting yang disebut-sebut bakal masuk dalam daftar Kabinet Kerja. Istana seringkali 'ngeles' ketika ditanyai soal ini. Jawaban reshuffle merupakan hak prerogratif presiden seolah menjadi senjata pihak istana ketika didesak pertanyaan soal perombakan pembantu presiden. Saya tak sengaja bertemu Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat 8 April pagi. Hasto tampak buru-buru menuju jalan ke luar. Hasto yang datang di tengah kencangnya isu reshuffle tentu mengundang berbagai dugaan. Kabarnya, Hasto menemui Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Pertemuan luput dari pantauan media yang hari ini berfokus pada rapat pemerintah bersama ratusan kepala daerah hasil Pilkada 2015 di Istana Negara. Kabar pertemuan ini kemudian dikonfirmasi kepada Pramono. Mengelak. Itu lah kesan yang didapat dari sikap Pramono hari ini. Berkali-kali ditanya, Pramono hanya terse...

Atas Nama Lazim

Lazim. Iya, lazim, sesuatu yang sudah biasa, menjadi kebiasaan, sudah umum, dan lain-lain. Di negeri tercinta ini, kebenaran mungkin bisa diciptakan karena lazim. Jangan tanya kenapa, gue juga ga terlalu tahu apa muasal semuanya bisa begitu. Satu hal yang gue tahu, sampaikan apa yang benar sebanyak-banyaknya, biar orang tak terbiasa menerima yang salah. Udah itu aja. Prinsip itu gue pegang dalam hidup. Sayangnya, itu ga bisa diterapin di lingkungan gue sekarang. Sebagai kuli tinta, penyampai informasi pada publik, gue merasa hal semacam itu wajib dilakukan. Tapi argumentasi soal "enggak apa-apa pake kata (sesuatu), umum lebih mengerti," membuat gue merasa akan sia-sia berargumentasi di depan penyampai. Satu dua kali gue bisa terima ketika dikatakan menulislah dengan bahasa yang dimengerti orang kebanyakan. Penulis memang mau tulisannya dibaca dan dimengerti. Pembiaran demi pembiaran terjadi di tahap ini. Misal, kata absen untuk menunjukkan kehadiran orang. Padaha...

Alur

‎Ada banyak manusia yang mencoba menikmati rasa sakit. Dulu, saya berada di seberang mereka. Menurut saya, selama masih bisa dihindari, rasa sakit sebaiknya jangan dirasa-rasa. Ya, kira-kira begitu lah. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan ketimbang sekadar menikmati perih. Moron! Iya sih, sedikit emosional menanggapinya. Hahaha Tapi seorang teman pernah memberi wejangan. "Sesekali, rasa sakit itu harus dinikmati. Contohnya rasa rindu. Lu rindu sama bokap, sama temen, sama siapa pun yang udah ga bisa lu lihat, mendingan lo serap. Kalo emang harus nangis ya nangis, jangan ditahan," kata dia. Ah sampah!  "Lu bisa ngomong begitu karena lu belom ngerasain. Seenak jidat lebar aja lu ngomong,"  Begitulah jawaban saya, waktu itu. Aneh menurut saya teori tentang sesekali menikmati rasa sakit, perih, rindu, atau apalah namanya. Semakin ke sini, saya merasa ada benarnya juga omongan si teman. Banyak kenalan yang memang sesekali mengaku menikmati semua kesenduan hidup. S...

Jakarta Hari Ini

Tak ada yang berbeda dengan Jakarta hari ini. Saya janji! Setidaknya, untuk diri saya sendiri. Pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.55 WIB, Kamis 14 Januari, kelas yang tadinya fokus mendengar ocehan pemateri seketika sedikit riuh. "Ada ledakan di Sarinah, ya?" Kurang lebih seperti itu kalimat yang pertama kali muncul dari seorang teman. Sebagai seorang jurnalis (belum berpengalaman), saya sontak mengambil handphone dan membuka beberapa notifikasi Whatsapp. Foto, video, kalimat perintah atasan, dan komentar anggota (beberapa) grup yang saya ikuti, bermunculan. Saya mulai mengusap jari ke arah atas layar handphone sampai menemukan informasi pertama soal ledakan. Pelan-pelan, saya membaca dan menyaksikan satu per satu informasi baik audio maupun visual yang masuk ke handphone. "Oh, ada bom dan tembak-tembakan," batin saya. Saya tidak bilang rasa empati saya hilang. Keyakinan saya jika semua akan baik-baik saja mengalahkan rasa takut dan panik. Dengan tenang, saya me...

Eh, loh, waduh, gimana??

Menuju pagi. Matahari sebentar lagi meninggi. Tubuh mulai kehabisan energi. Sepersekian detik seolah mendengar elegi. Ebuset. Elegi banget? Kok rada ngeri ya? hahahaha Kalo menurut KBBI, elegi  berarti syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian). Hmmm... Ga kok. Tadi gw bohong soal elegi. Cuma tetiba kepikiran satu kata itu aja. Begitu nyari di KBBI ternyata arti sebenarnya cukup nyeremin. Hahahaha hiks! ****** KEMATIAN! Mungkin nih ya, yang ga takut mati cuma orang-orang yang ibadahnya bagus, sudah selesai dengan urusan duniawi dan lain-lain. Orang kayak gw yang untuk hal-hal di atas aja belom ampe setengahnya mayan takut nih sama kematian. Amit-amit deh, kudu tobat yang paling tobat dulu kali gw baru berani mati. Lah ini kenapa jadi bahas mati-mati dah. Harusnya yang diomongin tuh USAHA MATI-MATIAN biar bahagia, kaya raya dan bisa keliling dunia. Hahahaha.. Auk ah, ga ada nyambung-nyambungnya omongan gw p...

............................

Tak semua yang kau lakukan bisa diterima dengan cara biasa oleh orang lain. Kadang, apa yang kau maksud justru dinilai salah. Iya, itu pasti berkali-kali terjadi, Terlebih bagi mereka yang memang tak terlalu pandai menunjukkan apa yang mereka rasa. Sebagian orang bilang mereka adalah manusia yang merugi. Awalnya, pikiran itu tak terlalu memengaruhi. Tapi semakin lama, asumsi kebanyakan orang itu cenderung mendekati kebenaran. Apa salah pada akhirnya mereka memilih kembali hanya berfokus pada benda mati sebagai teman, sahabat atau apa pun yang bisa mewakili itu? Benda mati tak pernah lelah walau terus-terusan dibombardir hal menyebalkan. Benda mati tak pernah membuat luka bagi mereka yang berusaha menjaga rasa. Benda mati tak pernah berpikir yang tidak-tidak pada mereka yang menganggapnya dekat. Benda mati tak pernah terpengaruh dengan situasi dan lingkungan. Benda mati mungkin membuat damai menjadi teman sejati. Tapi, bukankah manusia membutuhkan manusia lain untuk tahu dirinya...

Apa Kabar, Punk-5?

Punk-5! Entah dapet dari mana itu nama. Yang jelas, nama itu muncul pas pertama kali kami semua gabung di satu kelas 1-5 (sekarang disebut X-5). Hahahaha.... Namanya juga anak SMA ya, masih geli ga jelas gitu.  Dulu, Ketua Kelasnya Walas alias Yayi, Wakilnya Gilang, Sekretaris SIti, Bendahara gue dan Wenny. Ya isinya kita-kita doang sih. Walaupun dulu gue sempet pindah kota 2 tahunan, pas balik lagi ke Curup tetep bisa seru sama mereka semua. Banyak banget cerita di kelas ini. Mulai dari urusan cinta-cintaan ala anak SMA yang kalo diinget-inget sekarang gue nya jadi pengen jackpot! hahahahhaha... Gatau juga gimana ceritanya gue, Wenny, Ricky, Gilang dan Siti bisa sampe nge-gank pake nama Sfartky Wella! hahhaa.. Oh, kayaknya gara-gara tugas kimia dan kami tergabung dalam satu kelompok. Mulai dari situ, kami selalu bareng-bareng. Apalagi kalo ngerjain PR Kimia! Bah! Udah dah, si Gilang yang langganan juara Olimpiade kimia ampe ke pusat (Jakarta) udah paling bener itu diajak belajar k...