Skip to main content

Posts

Terbiasa itu Penting

Bongkahan kesal itu akhirnya tersembur. Sesuatu yang awalnya baik menjadi berai, hilang bentuk. Tak ada yang perlu disalahkan. Kamu, Aku, Kita, semua punya problem yang sama. Kepentingan kita berbeda. Sampai kini pun tak ada jalan tengah karena magnetku selalu menarik ke kiri dan kau ke kanan. Memintamu atau Aku untuk melupakan tak pernah jadi jalan keluar. Hati dan rasa tak bisa dipaksa. Ingat maka ingat, sekuat apapun kita melawannya. Beruntung, Kamu dan Aku mau saling mencoba terbiasa. Berjalan bersama di sisi jalan yang bebeda. Setidaknya, Kita bisa saling mengawasi ketika salah satu membutuhkan pertolongan. Itulah konsep setia menurut Kita. Tak perlu penjelasan lebih, tapi saling mengerti tetap terpatri di sini, di mata, hati, dan setiap gerak tubuh. Kamu, Aku, Kita, akan tetap ada. Meski kini Kamu dan Aku berdampingan dengan manusia yang berbeda, kita tetap menapaki jalan yang sama, hanya berbeda sisi. Aku kiri dan Kamu kanan. Mata masih saling mengawasi. Hat...

Curug Cikondang dan Situs Gunung Padang, Luar Biasa!

-Tulisan ini dibuat dalam perjalan menuju Cianjur dan ketika kembali ke Jakarta, 9 November 2014- *** Perjalanan menuju situs sejarah yang satu ini memang ga lancar-lancar banget. Ya, seperti biasa, KRL Jakarta-Bogor yang suka telat ikut gue rasain efeknya. Dari yang jadwal keberangkatan 05.49, si KRL baru berangkatnya  jam 06.25 . Alhasil, sampe di Stasiun Bogor udah jam 07.35-an. Setelah sekitar satu menit kepake buat nanya, sisanya kita pake buat lari ke Stasiun Paledang yang ternyata letaknya di seberang Stasiun Bogor. Ngos-ngosan sih udah pasti. Tapi itu terobati ketika sampe Stasiun Paledang dan nukerin tiket, ada satu mas-mas yang terpaksa batal berangkat karena salah kaprah soal pemesanan online (ini sih gue jahat parah ya, haha). Makanya mas, pesen dulu yang bener sampe nomer bangkunya pasti, hahaha... Perintilan soal tiket selesai. Kita berhasil naik kereta di menit akhir sebelum keberangkatan. Tepat  jam 07.59  kereta berangkat (telat empat menit, harusnya 07.5...

Berhenti di Kamu

Tunggu! Jangan protes dulu! Itu bukan judul lagu yang bisa bikin galau ya sodara-sodara. Kata orang, usia se-gue gini lagi pusing-pusingnya sama isu pernikahan. Aelah! Kayak dunia bakal selesai aja kalo kita udah nikah. Tapi, menciptakan alasan apapun untuk masalah yang satu ini, ujung-ujungnya kita juga yang salah. Bah! Pernahnya aku dikata cuma cari pembenaran karena ngucapin alasan aku masih mau senang-senang dengan hidup aku yang gatau lama atau sebentar waktunya. *nah loh, kenapa pulak jadi Batak begini aku ngomongnya! Hahaha **** Oke...oke.... Umur gue nyaris 27 tahun. Usia yang kata orang-orang, termasuk kata nyokap gue usia yang sudah pas untuk menikah! Apalagi, kakak gue udah nikah daaaaaann adek gue pun udah nikah! Makin suramlah mata orang menatap wajah gue yang biar cubby tapi tetep kece ini! Yang jadi soal, pandangan tiap orang tentang pernikahan itu beda-beda. Weits! Jangan pikir gue ga mau nikah yak!? Mau banget! Tapi, ga sekarang. Bukan karena belom ada yang ngelamar! Y...

HBD, Papa!

Halo, Papa! Ga kerasa ya, ini udah tahun ke-9 papa ulang tahun tapi tidak di dunia. Semoga papa di surga ya, merayakan ultahnya. Aku mau ceritakan satu rahasia lagi, setelah beberapa rahasia aku kasih tahu ke papa dalam tulisan 'Dini Hari di Teras' beberapa waktu lalu. Setelah papa pergi 7 Juli 2005, aku merasa gamang. Satu sayapku copot pa, kata orang-orang, patah! hahahaha... Hubungan kita yang tak terlalu dekat semasa kau hidup ternyata terasa lebih menyakitkan untuk dikenang ketika kau sudah dipeluk Tuhan. Sejak 2006, satu tahun setelah kau pergi, aku selalu merayakan ulang tahun mu. Untuk ukuran komunikasi kita yang tak terlalu bagus, hal ini mungkin terasa aneh buat papa,hehehehe... Tapi itulah kenyataannya. Setiap tanggal 7 Juli aku selalu sakit pa, mungkin terlalu rindu dan ada yang belum selesai di antara kita. Begitu juga setiap 15 Oktober. Aku selalu mencari kedai kopi untuk sekadar seolah-oleh merayakan ulang tahunmu. Padahal, waktu kau hidup, aku cuma menyalami sam...

a b c d e F YOU!

Ada beberapa hal yang mungkin sangat ingin lo hindari di usia lo yang udah melewati seperempat abad.  KAPAN NIKAH? itu salah satu hal yang paling males lo denger. Pertanyaan yang menurut lo ga penting karena lo merasa masih banyak hal yang harus lo lakuin sebelum kata-kata mengerikan itu harus lo jalanin. NANTI KALAU SUDAH TERLALU NYAMAN SENDIRI, KAMU GA BAKAL NIKAH-NIKAH. MAU SAMPE KAPAN?? Pernyataan dan pertanyaan itu juga pasti ga asing buat lo. Trus lo bisa apa pas ada yang ngomong dan nanya kayak gitu? Ngeles? atau bahkan ngelemparin yang nanya pake boots kesayangan lo?  Gw sih ogah! hahahahaha ***** Belakangan, hal itu jadi tema besar dalam hidup gw. Cukup mengganggu, terus terang. Tadinya gw pikir gw akan baik-baik aja. Ternyata enggak! Semua orang nanyain? SANTA! Tapi kalo nyokap yang nanyain??? KIAMAT! hahahahahha sengaja tulisannya gw buat ngegantung. Karena sampe sekarang gw masih dalam tahap terganggu, dan belum memutuskan apa-apa....

Tuhan Punya Kuasa, Silakan Ikuti atau Lari

Bulat. Seperti itu gambaran tekadku untuk meninggalkan Jakarta. Tepat dua bulan setelah tekad dibulatkan, hal buruk terjadi. Pilihanku semakin sempit. Bertahan di sini dan semuanya baik-baik saja, atau berkeras pergi diikuti berbagai masalah baru. Aku jenis manusia yang takut tak bisa memenuhi tanggung jawab. Kalau 'terpaksa' menjadi pilihan kata yang tepat, maka kata itulah yang kini menjadi sahabat baruku. Terpaksa nyaman di tempat yang membingungkan, terpaksa bahagia di tempat yang kurang menyenangkan, terpaksa tersenyum dalam marah, terpaksa ikut tertawa dalam duka, dan lain-lain. Tapi jika yang harus dilengkungkam bibirnya adalah manusia maha penting dalam hidupku, samurai pun akan aku lawan tajamnya. Tuhan punya kuasa, silakan ikuti atau lari! Kali ini aku pilih ikuti. Demi mereka, demi aku, dan demi kita. Bismillah....

Senin Malam dan Kalian

Tak ada yang lebih menyenangkan kecuali tertawa bersama sahabat. Zaman berubah, tawa virtual pun kini mampu meredam gelisah. Terima kasih, sahabat! Tanpa kalian, duka tak akan menjadi suka, lara tak akan menjadi bahagia. Hal terindah dari ini semua adalah ketika kita bisa menertawakan kesedihan. Ha ha ha.. Tak satu pun membiarkan yang lain terluka, seujung kuku pun. Thanks a lot, kalian. Senang bisa dihibur dan menghibur kalian :))